Categories
Uncategorized

Jalan jalan ke kampung wisata suku baduy di Banten

Bosan dengan atmosfer kota yang padat, saya mau menyepi sejenak ke sesuatu tempat. Tetapi, kali ini saya tidak mempunyai waktu liburan yang panjang. Saya wajib mencari tempat wisata yang tidak terletak sangat jauh dari kota Bogor. Untungnya saya mempunyai sahabat bernama Ryan yang memanglah dalam darahnya telah mengalir jiwa petualang. Kali ini ia mengajak saya menyepi mengarah Kampung Suku Baduy yang terletak di Banten. Posisi tersebut masih dapat dijangkau memakai Commuter Line( KRL)

Dalam ekspedisi ini kami berjumlah 8 orang. Rumah kami terpisah di Jakarta, Bogor serta Depok hingga di hari keberangkatan kami memutuskan buat berkumpul di stasiun Transit Tanah Abang supaya dapat langsung menyambung kereta mengarah Rangkas Bitung. Kami janjian berkumpul jam 08. 00, hingga pagi itu saya menaiki kereta jam 06. 05 dari Bogor yang bagi agenda hendak datang jam 07. 25 di Tanah Abang. Bagaikan pengguna KRL teratur, saya mempunyai kartu Multitrip seberti E- Money buat KRL supaya saya tidak wajib mengembalikan kartu di akhir ekspedisi. Tarif KRL sendiri dikala ini merupakan Rp3. 000 buat 25 kilometer awal serta Rp1. 000 buat 10 kilometer berikutnya. Jadi buat ekspedisi PP saya melaksanakan pengisian sebesar Rp50. 000.

Kampung Wisata Suku Baduy terletak di Kanekes, Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Posisi tersebut terletak dekat 40 kilometer dari Rangkas Bitung. Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung banyak calo- calo angkot yang mengerubungi buat menawarkan sewa mobil langsung ke Ciboleger. Tetapi, bagi Ryan sang petualang, kita lebih baik menaiki elf yang memanglah ditujukan mengarah Ciboleger. Jadi kami cuma butuh menaiki angkot no 07 jurusan Halte Aweh dengan ongkos sebesar Rp5000. Dari Halte Aweh baru kita dapat menaiki mobil elf mengarah Ciboleger dengan lama waktu ekspedisi dekat 1- 2 jam serta ongkos yang butuh dikeluarkan merupakan sebesar Rp25. 000.

Sesampainya di Ciboleger kita wajib menyusuri jalur setapak buat hingga di pemukiman masyarakat Suku Baduy Luar. Waktu yang ditempuh menggapai 1 jam dengan jalur mendaki serta menyusut. Tetapi untuk turis yang mau mendatangi daerah Baduy Dalam dapat berjalan sampai 5 jam saat sebelum datang di Kampung Cibeo, salah satu kampung dari 3 kampung Baduy Dalam.

Dengan total penduduk 5000- 8000 orang, suku Baduy masih terisolasi dari dunia luar. Mereka masih memegang teguh adat istiadat serta ketentuan dari nenek moyang. Secara penampilan, suku Baduy dalam mengenakan pakaian serta ikat kepala serba putih. Sebaliknya suku Baduy luar mengenakan baju gelap serta ikat kepala bercorak biru. Secara budaya, suku Baduy dalam lebih teguh memegang adat istiadat suku mereka, sebaliknya suku Baduy luar telah mulai terbawa- bawa dengan budaya dari luar. Persamaan dari keduanya, mereka pantang buat memakai alas kaki, teknologi modern serta transportasi modern.

Dalam ekspedisi mengarah tempat kami menginap, kami disugguhkan dengan panorama alam rumah- rumah suku Baduy Luar, setelah itu ada jalan yang sedikit berbatu serta naik turun. Kami pula melewati sungai serta lumbung padi kepunyaan suku Baduy. Rumah- rumah di perkampungan Baduy masih dibuat dari bambu serta ijuk dan seluruhnya menghadap ke arah yang sama. Suku Baduy memanglah populer sangat dekat dengan alam, mereka senantiasa melindungi alam yang mereka tempati. Tidak heran kampung yang terdapat di mari masih terpelihara serta bersih.

Sehabis puas melihat- lihat wilayah perkampungan Suku Baduy, kami memutuskan buat menginap di salah satu rumah masyarakat Suku Baduy. Di sinilah dikala yang umumnya sangat ditunggu- tunggu. Tanpa listrik, tanpa gadget, serta tanpa kamar mandi pastinya jadi tantangan seru untuk tiap turis. Kita wajib mengarah ke sungai terlebih dulu buat mandi ataupun buang air. Di mari kita tidak diperkenankan buat memakai teknologi modern pula tidak boleh memakai bahan- bahan kimia buat mensterilkan diri. Kita betul- betul hidup menyatu dengan alam.

Buat makan malam sesungguhnya kita dapat memasak di dapur tempat menginap. Tetapi saranku individu lebih baik kita telah mempersiapkan nasi bungkus ataupun santapan yang telah siap santap saat sebelum hingga di kampung Baduy supaya lebih mengirit waktu. Kebetulan pada dikala saya berkunjung, Kampung Suku Baduy lagi panen buah Durian. Diperjalanan kembali, masyarakat Suku Baduy banyak berlalu- lalang memikul buah Durian buat dijual keluar. Saya pernah mencicip serta rasanya nikmat! Wisata yang menarik buat didatangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *