Categories
Uncategorized

Mengenal 2 Anyaman Dasar Kain Tenun

Menenun adalah proses pembuatan produk tekstil (kain) dari persimpangan dua seri benang yang diumpankan secara transversal ke dalam benang lungsin (benang lungsin).

Dari persilangan ini akan menghasilkan berbagai jenis kain yang dapat dipadukan dengan berbagai warna benang yang berbeda. Dan produk dapat menggunakan metode tradisional atau menggunakan alat modern, seperti mesin industri.

Baca Juga : Kegunaan Bahan Kain Babyterry

Cara tradisional yang masih dibudidayakan adalah penggunaan tisu. Bagian tengah berfungsi untuk menahan benang lungsin sementara tikungan dimasukkan secara melintang di antara benang lungsin. Ini dipahami oleh kain, yang merupakan pola silang antara lungsin dan kain.

Jenis Anyaman Dasar

Pada dasarnya ada 3 jenis dasar anyaman untuk kain tenun, dibawah ini akan dijalaskan 2 dasar anyaman tersebut.

Anyaman Polos

Anyaman Polos juga disebut Gelombang Polos atau ada yang menyebutnya taffeta, plak, dan kucing. Tenun sederhana adalah teknik tenun yang paling sederhana dan mendasar.

Kain ini dibuat dengan benang lungsin dan ditekuk ke atas dan ke bawah secara bergantian dan melintang untuk menghasilkan pola wanita.

Beberapa contoh kain yang menggunakan kain sederhana seperti organza, crepe dan lainnya.

Karakteristik Anyaman Polos

  • Anyaman tertua, paling sederhana dan paling sering digunakan.
  • Pengoperasian benang lungsin dan lungsin sangat sederhana, yaitu 1 naik / turun 1.
  • Ulangi pada ikat pinggang memiliki hubungan yang sama antara memukul dan membengkokkan. 2 atas / bawah 2, 3 atas / bawah 3 dan seterusnya.
  • Jumlah lintasan tertinggi antara jenis sabuk dasar lainnya.
  • Sabuk sederhana lebih kuat dari jenis sabuk lainnya, dan posisi kawat tidak mudah diubah.
  • Ikat pinggang sederhana lebih sering dikombinasikan dengan struktur kain lain daripada jenis ikat pinggang dasar lainnya.
  • Tenun sederhana pada kain padat biasanya menggunakan kain yang lebih besar dari pada lungsin.
  • Ini dapat digunakan untuk kain langka atau tipis, dengan hasil yang memuaskan dibandingkan dengan jenis sabuk lainnya.

Anyaman Keper

Kain ini lebih dikenal dengan sebutan crepe. Band Keper adalah jenis band di mana kawat lungsin dan tekuk naik dan turun secara bergantian, tetapi titik pertemuan antara lungsin dan kawat lentur mengalir ke samping atau membentuk pola palka atau diagonal (garis potong).

Semakin sempit sudut garis melintang, semakin banyak benang lungsin digunakan dan ini membuat jaring lebih kuat.

Contoh kain yang menggunakan jenis kain ini seperti denim, chino, tweed dan lainnya.

Karakteristik Anyaman Keper

  • Tipe kedua dari sabuk dasar banyak digunakan setelah sabuk normal.
  • Luka atau robekan cenderung terlihat pada permukaan kain.
  • Jika arah bilah bergerak dari kanan bawah ke kiri atas, maka itu berbalik ke kiri, sedangkan sebaliknya itu ke kanan.
  • Batang yang dibentuk oleh benang lungsin disebut efek lungsin, sedangkan yang sebaliknya adalah efek memajukan.
  • Balok membentuk sudut 45 derajat dari garis horizontal.
  • Penampilan permukaan yang berbeda dari kain atas dan bawah.
  • Biasanya terbuat dari konstruksi padat
  • Kekuatan kain tidak sekuat yang sederhana.
  • Pengaruh arah lilitan kawat sangat besar pada penampilan batang.
  • Lebar sudut pemotongan dipengaruhi oleh hubungan antara lungsin dan total pakan
  • Sebuah bar dengan sudut> 45 derajat disebut crepe curam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *